Menulis Ala Lulu

by - Juli 31, 2018

Menulis Adalah Berbicara.

Berbicara melalui kata-kata adalah pilihan tepat bagi orang yang kurang memiliki retorika berbicara dengan baik seperti saya, hingga pada saatnya menemukan jalan dari apa yang saya keluhkan selama ini. Saya mengenal dunia menulis sejak lima tahun lalu, kemudian beberapa karya dari gerakan jemariku telah berhasil tembus media cetak maupun online. Menulis adalah alat bagi saya untuk berbicara lebih banyak kepada dunia.

Tujuan utama saya menulis adalah untuk bisa saling berbagi kepada para  pembaca. Saat menuliskan non fiksi, tujuan saya adalah berbagi dengan memberikan informasi yang bermanfaat kepada pembaca. Kemudian saat menuliskan karya fiksi, tujuan saya adalah memberikan amanat atau pesan yang terkandung dalam tulisan-tulisan fiksi, seperti cerpen dan puisi. Sehingga pembaca karya fiksi saya tidak akan mendapatkan manfaat hiburan saja, melainkan akan mendapatkan pelajaran yang bisa diambil di dalamnya.

Proses Kreatif Menulis Ala Lulu
Pada kesempatan ini, saya dengan nama pena dan lebih akrab dipanggil Lulu Erzed akan berbagi beberapa langkah yang sering saya gunakan untuk menghasilkan suatu karya tulis. Berikut langkah, tips, trik, dan sekilas info singkat dari “Proses Menulis Ala Lulu”:

-          Memperbanyak Wawasan
Untuk menjadi penulis hebat, tentunya butuh membaca dan wawasan pengetahuan yang luas. Pengetahuan yang luas tidak hanya bisa kita dapatkan di bangku sekolah, kuliah, atau bahkan jalan-jalan keliling dunia. Pengetahuan dan wawasan yang luas dapat kita dapatkan darimana saja. Pandai-pandai lah melihat keadaan sekitar dan menjadikan apa yang kita lihat sebagai pelajaran, pengetahuan, dan wawasan.
-          Mengikat Ide dengan Pena
Ide memang liar, seringkali datang dan pergi begitu saja. Saat tiba-tiba ide datang harus langsung cepat-cepat diikat. Mengikatnya pakai apa? Tentu saja memakai alat tulis, bisa mengunakan pena dan kertas atau pada era teknologi sekarang ini akan lebih mudah menuliskannya di gadget. Namun saya pribadi lebih menyukai menuliskan di kertas, kalau memang tidak dalam keadaan genting. Karena menuliskan di kertas akan lebih mudah dalam mencoret-coret sesuai apa yang sedang terlintas di pikiran.
Ada sedikit tips: untuk para penulis yang termasuk orang pelupa seperti saya ini, harus cepat-cepat sigap dan tanggap pada ide sekecil apapun untuk segera menuliskannya. Karena ide itu mahal dan tidak bisa diprediksikan kapan datangnya, maka akan sangat disayangkan jika ide hilang begitu saja.
-          Mendapatkan Sumber Ide
Sumber ide bisa datang dari mana saja. Bisa dari apa yang kita lihat, dengar, bahkan juga dari apa yang kita rasakan. Semua kejadian atau situasi keadaan yang sedang ada di depan indera kita pun bisa jadi memunculkan suatu ide tulisan.
Mendengar menjadi sumber ide bisa kita dapatkan saat sedang mengobrol dengan orang lain atau saat curhat dengan teman. Seringkali saya terlintas banyak ide ketika sedang berbicara atau sharing cerita dengan siapapun itu.
-          Membuat outline
Hal yang terpenting bagi saya setelah mendapatkan ide adalah membuat coretan outline atau garis besar apa yang akan saya tulis. Biasanya dalam membuat outline ini lagi-lagi sangat membutuhkan kertas dan pena, karena bagi saya akan lebih mudah.
Menulis karya fiksi maupun non fiksi sangat membutuhkan outline, karena akan sangat memudahkan dalam proses penulisan karya, sekalipun dalam penulisan puisi. Dengan membuat outline, akan meminimalisir kekurangan atau terlupa pada bagian-bagian yang akan ditulis karena sudah dipersiapkan sebelumnya.
-          Menyiapkan Judul
Pada saat para penulis lain yang rata-rata mereka menciptakan judulnya di akhir setelah keseluruhannya jadi, berbeda dengan saya yang seringkali menyiapkan judul di awal sebelum saya memulai menulis keseluruhan. Ide judul seringkali datang lebih awal, juga bagi saya judul tersebut akan mampu membatasi cerita atau tulisan saya supaya tidak melebar kemana-mana, disamping sudah ada outline yang telah dibuat.
-          Membuktikan kebenaran
Setelah mendapatkan ide dan membuat outline yaitu membuktikan kebenaran atau dengan membuat riset kecil. Menulis yang realistis sekalipun yang sedang ditulis adalah karya fiksi. Karena dengan menulis sesuatu yang realistis, akan membuat pembaca tertarik dan memberikan nilai lebih pada karya kita dan seolah-olah karya fiksi yang sedang dibuat adalah kisah  dengan imajinasi yang logis.
-          Menyunting atau Edit Naskah
Setelah tulisan jadi, Sebelum karya dikirimkan atau dipublikasikan saya selalu  membaca ulang tulisan secara keseluruhan dan teliti. Menyunting naskah di sini bertujuan agar memperbaiki apabila ada salah dalam penulisan atau penambahan kalimat, sehingga tulisan akan lebih baik dan lebih enak dibaca.
-    Meminta Komentar atau Saran dari Pembaca Terdekat
Penilaian sebelum tulisan atau naskah dibaca lebih banyak orang, seringkali saya lakukan. Dengan meminta kerabat, teman, sahabat, atau siapapun orang terdekat saya untuk membacanya. Karena komentar dan saran sangat dibutuhkan untuk perbaikan sebelum tulisan kita dinikmati oleh banyak pembaca. Tips: Jangan pernah malu untuk dibaca orang.

Sekian dari Lulu Erzed, begitulah sedikit proses kreatif yang dapat saya tuliskan pada kesempatan ini. Dengan harapan tulisan ini mampu memberikan tambahan wawasan kepada teman-teman semua untuk mengiringi proses menulis kalian. 

Salam kreatif!

You May Also Like

0 Comments