Perempuan (Tak) Suka Kopi

by - November 08, 2018


Pict Pinterest
Stigma yang berkembang di masyarakat, mencari pasangan perempuan harus yang cerdas masih membudaya di setiap muda yang ingin mendekati atau meminang mudi. Dalihnya, perempuan lah yang akan memberikan warisan kecerdasan kepada keturunannya kelak. Tak hanya sekadar dalih saja, bahkan dalam penelitiannya membuktikan bahwa gen kecerdasan lebih banyak turun dari Ibu, sebab perempuan mempunyai dua kromosom x.

Di sela obrolan ringan sore itu, perempuan dihadapanku tetiba mencetus,

“Kalau begitu aturan mainnya, pantas saja sampai saat ini aku masih belum laku”, cetus Anna.

“Parasmu ayu, Ann”, tenangku.

“Baru saja kau bilang, kalau laki-laki itu pasti cari perempuan yang pintar.”

“Kan tidak semua laki-laki”

Obrolan sore terhenti seketika setelah pembahasan tersebut. Anna memutuskan untuk pamit, ku ditinggalkan setelah tegukan kopi terakhirnya, kemudian ku amati langkah kesal Anna meninggalkan warung kopi.

“Sudah biarkan saja, esok juga sembuh”, batinku dengan sangat paham bagaimana karakter Anna.

Aku masih saja heran atas karakter perempuan yang rata-rata semenyebalkan itu. Sulit diajak diskusi, sukanya mengedepankan emosi. Pantas saja perempuan jarang sekali bisa menikmati kopi. Menikmati? Bahkan dalam hal menyeduh kopi pun sepertinya lebih lihai laki-laki.

Mari kembali ke topik Anna.

Perempuan ayu berparas manis khas Jawa bagian barat tersebut selalu berhasil menyelinap dalam lamunanku yang akhir-akhir ini kerap kali memikirkan siapa atas nama jodoh yang dipersiapkan Tuhan untukku. Anna, aku tau jika dia sebenarnya adalah perempuan cerdas. Hanya saja dia terlalu tertutup takut berbicara di depan publiknya.

“Nadir”, pesan teks berisi sapaan muncul dari genggaman ponselku. Kan, sudah ku bilang. Perempuan satu ini tidak terbiasa meninggalkanku lama-lama.

“Ann, kamu sekarang jadi pasanganku ya”, ku balas teksnya.

“Maksud kamu?”

“Maksud aku, kamu jadi pasanganku. Tapi dengan satu syarat”

“Apa?”

“Kamu harus rajin baca buku dan setiap malam sebelum tidur, kita harus berdiskusi untuk menyelamatkan dunia”

“Oke”

Kata orang, aku pandai membaca lawan. Jawaban sesingkat itu, kemudian mengiyakan tawaranku adalah jawaban cukup aneh. Perempuan yang biasanya selalu ingin membutuhkan alasan dan kejelasan. Berbeda dengan Anna, dia memang cukup berbeda di kalangan perempuan. Tetapi juga masih cukup banyak persamaan sifat dasar perempuan pada umumnya. Dia tetap sama, dia bukan penikmati kopi hitam bahkan sudah lima bulan mengenalku, dia tetap saja tak berani mencicipi kopi hitam yang seringkali ku pesan di warung kopi langgananku.

“Ann, pesan apa?

“Cappucino saja”

“Bang, kopi hitam dua”, pesanku kepada barista- sambil dibalasnya senyum terkekeh menatap tatapan masam Anna.

“Ann, sekali-kali kamu harus merasakan kopi ini. Aku yakin setelah kamu menyeduh dan menikmatinya, kamu akan lebih bisa memaknai hidup. Kamu akan lebih bisa menerima segala garis yang tak sesuai harapmu. Kamu akan tidak lagi menjadi perempuan penggalau atau pengeluh atas hidupmu, yang biasanya kamu tuliskan dalam status atau cerita di media sosial kamu. Kamu akan jadi perempuan yang lebih sabar, kamu akan jadi perempuan indah, kamu akan jadi perempuan cantik seutuhnya. Kamu akan lebih jadi perempuan idamanku”

Balasnya hanya dengan mengernyitkan dahi- bersamaan dengan datangnya barista membawa kopi hitam pesananku.

“Percayalah. Silahkan diseduh, Nona Anna. Mumpung belum dingin”.
Satu minggu sekali, menjadi rutinitasku dan Anna untuk menyeduh kopi, membaca buku, dan berdiskusi bersama. Bukan mendiskusikan bab cinta atau perihal hubungan kita. Sekali lagi, selalu dalam upaya menyelamatkan dunia. Apapun yang bisa kita bicarakan dan harus mendatangkan kemanfaatan.

“Ann, sudah satu tahun lebih kita bersama. Bahkan perayaan satu tahun hari jadi pun kita tak punya tanggal. Ah itu tidak penting. Bagaimana? Kamu masih saja merasa dirimu adalah perempuan bodoh?”, tanyaku pada suatu akhir pekan yang entah itu adalah Sabtu keberapa yang kita habiskan bersama.

“Terimakasih, Nadir”

“Tabu”

“Mengapa tabu?”

“Kamu saja belum berterimakasih ke orangtuamu. Sebab mereka telah melahirkan perempuan ayu nan cerdas sepertimu. Berterimakasihlah kepada mereka yang telah mendidikmu, baru berterimakasih padaku”

Balasnya tersenyum. Senyum manis yang kulihat hanya sepekan sekali.

“Terimakasih untuk apa?”

“Terimakasih telah menjadikanku sebagai perempuan yang tidak merasa bodoh lagi”.

“Sama-sama, Anna. Kamu menjadi penyuka kopi hitam pun sudah cukup bagiku. Sebab itu adalah muasalmu menjadi perempuanku”.

"Baik, Nadir. Sekali lagi terimakasih. Selamat malam"

"Selamat malam, Ann"

You May Also Like

0 Comments