Secuil Cuplikan Wanasitu Anni Imra'ah

by - Desember 31, 2018

Pict Pinterest
Novel Wanasitu Anni Imra’ah karya Ihsan Abdul Quddus ini diterjemahkan oleh Syahid Widi Nugroho dengan judul (Bahasa Indonesia) Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan. Dengan cover cetakan pertama dan kedua bergambar perempuan menatap satu topeng yang dipegangnya, kemudian satu topeng lain terbengkalai di bawahnya. Visual yang sangat tepat untuk menggambarkan kisah dalam novel tersebut.

Tertulis dalam cover “Novel Menggugah tentang Ambisi, Karier, dan Cinta”. Merupakan sub judul yang menarik dengan tambahan sinopsis cover bagian belakang membuat pembaca dengan karakter sepertiku ini semakin tidak kuasa untuk segera membaca dan menghabisinya. Sedikit berlebihan hehe.

Ihsan menuliskan semacam kutipan pada bagian awal buku, “Setiap orang memiliki dua sisi : Satu untuk orang lain, satu untuk diri sendiri. Mustahil menyatukan keduanya.” Begitu kalimat yang mencerminkan kisah seorang perempuan Mesir, bernama Suad dengan pergulatan batin yang sangat luar biasa dalam lika-liku hidupnya memperjuangkan kesetaraan gender bersama ketiga komposisi tersebut. Ambisi, Karier, dan Cinta yang berhasil dikemas oleh penulis menjadi satu kisah sederhana nan menarik.

Sejak mudanya Suad sangat menomorsatukan pendidikan sampai-sampai ia tidak tertarik untuk menikah. Bahkan Suad sendiri memiliki pandangan dan konsep berbeda perihal cinta, pernikahan dan rumah tangga disela gombalan-gombalan dari kaum adam yang mengaguminya sebagai perempuan pintar nan cantik. Namun lanjut kisah, seiring perjalanan kehidupannya ia memilih untuk menikah sebagai pelengkap kodratnya sebagai perempuan dan mengalami berbagai macam perhelatan kisah cinta dengan kegagalan-kegagalan yang disebabkan oleh ambisi dan kariernya. Mengurus rumah tangga, hingga mendidik anak perempuan satu-satunya pun gagal.

Hingga pada saatnya, ia kembali memutuskan lari dari kehidupan dan tabiat dirinya sebagai perempuan. Pada usia lima puluh tahun, ia membunuh kebahagiaannya dan melupakan bahwa dirinya seorang perempuan.

Pengambilan cerita dengan sudut pandang orang pertama, dengan menjadikan Suad sendiri sebagai tokoh utama dalam novel tersebut. Suad menceritakan kisahnya seperti catatan harian pribadinya, dengan gaya arogan mendobrak sisi kesetaraan gender, namun sayangnya sedikit merendahkan sisi lain perempuan meskipun dengan pilihan bahasa yang halus.Penyajian karakter yang terkesan hitam membuat aku sebagai pembaca larut dalam emosi yang tersaji di dalamnya.





You May Also Like

0 Comments