Adalah Hari Raya Sesungguhnya

by - Maret 05, 2019

Pict Pinterest

Waspada I

“Kau habis dari mana?”

“Biasa, dari tempat belanjanya konglomlarat”

“Merat”

“Iya, sekarang merat. Ku semogakan saja besok dia mlarat”[1]

Aku sebenarnya tidak ingin dibawa mereka, entah siapa yang membawaku ke sini. Padahal aku lebih bahagia bersama orang-orang kecil di sana. Begitu percakapan kecil eluh kesah mereka yang bernasib sepertiku. Aku sedang malas bicara, cukup diam saja mendengarkan.

“Dia punya kita sebanyak ini darimana?” kata sekumpulan dari mereka yang baru saja datang.

“Baru dua tahun ini kepergian Ayahnya. Warisan terbanyak diberikan padanya. Anak laki-laki satunya, juga setahun lalu perusahaan ayahnya menang tender yang ditawarkan sebelum Ayahnya meninggal, kemudian keuntungannya berhasil diterima si bossmu sekarang itu.”

“Oalah begitu”

“Begitulah”, kemudian kami menutup pembicaraan pada malam hari itu, pun juga rumah sudah sepi. Hanya ada suara tawa rayap hendak memulai aksinya. Bukan binatang jalang tapi liarnya kalau malam. Terkadang satu dari kami ditemukan sudah tidak utuh paginya. Bos kami pun sering lupa naruhnya sembarangan.

Sedang aku merasa aman disini, sebuah ruangan yang tertutup rapat dengan kode kunci yang hanya dia saja yang tahu. Anak istri pun tidak diberi tahu. Entah penyakit apa yang sedang menimpa dia sekarang. Sampai-sampai keluarganya sendiri pun tidak dipercayainya.

“Selamat malam”, pamit si merah kepada yang lain.

Waspada II

Pukul tujuh pagi ini sudah ada rekannya datang, yang aku tau persis kalau dia seorang pengoleksi volkswagen berbagai tipe, dari beetle sampai VW polo pun ada. Keren memang.
Ayahnya yang dulu sempat melarang dia mengoleksi volkswagen yang alasannya karena sayang kalau tidak dipakai nantinya hanya buat pajangan. Namun setelah kepergian ayahnya dia lebih bebas, lebih merdeka tanpa ada larangan yang mengikatnya. Anak istrinya pun tak ada yang berani melarangnya.

Ternyata pamitnya si merah semalam mewakili sekawanannya juga. Hari ini mereka pergi meninggalkan kami. Mereka dibawa ke ruang depan menemui tamu yang bernama Ardi, pengoleksi VW.

“Kau berani tawar berapa?”

“200”, sambil membuka tas besi dengan menunjukkan ratusan juta yang dimiliknya.

“200? Hahaha. Itu cukup buat harga sewa boss”

“Kau minta berapa?”, katanya dengan nada menantang.

“800 saya kasih mobilnya Pak”

“Siap”. Mereka berjabat tangan.

“Tunggu sebentar ya” Kembalinya dia ke ruangan kami, mengambil lagi sekawanan si merah senilai 800 juta. Kami semua diam, pasrah akan keangkuhannya.

“Persediaan masih banyak”, gumamnya sendirian sambil menatap kami dengan tawa sinis.

Beberapa saat kemudian mobil itu sudah menjadi pajangan di garansi rumah Hari. Garansi rumah berdinding kaca namun terkunci rapat, meskipun aman di dalamnya namun siapapun yang lewat tetap bisa melihatnya.

Waspada III

Ku dengar sebentar lagi akan ada pilkada. 2019 menjadi tahun politik di negeri ini, terlebih di jawa bagian barat pasti tahun ini akan ramai. Ajang ini menjadi yang ditunggu-tunggu oleh Hari. Bermodal sarjana hukum keluaran salah satu universitas ternama, uang banyak, dan juga pamor ayahnya yang saat itu pernah menjadi kepala daerah yang disegani.

Sebelum ijin kepada istri dan sanak keluarganya, hari-hari sebelum dia benar-benar memutuskan untuk terjun di sana, tamu mulai silih berganti berdatangan ke rumahnya. Entah dari rekan kerjanya, atau dari rekan partainya.

Malam itu ia hendak ijin ke istrinya. Ku kira istrinya tidak setuju, karena Hari sendiri belum pernah berpengalaman terjun ke politik.

“Mi, aku nyalon ya”, tanyanya kepada sang istri.

“Sok atuh, Pa” jawab istrinya santai ternyata karena janji-janji manis suami atas kehidupan masa depan yang dijanjikannya.

Beberapa bulan kemudian seluruh prosedur telah dilewatinya. Berbagai trik segala cara dilakukan untuk kampanye sampai keluar ratusan juta. Sisa kami masih saja ada, dan belum habis-habis juga. Meskipun ada kekhawatiran padanya, pun selalu menjadi kekhawatiran pada kami. Keluarga kami di brankas ini tidak sebanyak dulu lagi.

“Kami bersedih hanya untuk kebahagiaannya” keluhku pada mereka.

Akhir Kewaspadaan

Sebentar lagi pesta perayaan kemenangan akan dimulai. Kewaspadaan yang ku takutkan akan segera terjadi. Bahkan aku ingat atas doa yang ku semogakan kalau dia suatu saat nanti akan mlarat.
Aku yang menjadi sisa dari banyak yang telah habis dimakan olehnya, sang konglomlarat. Firasat buruk melandaku malam ini.

Dan benar, Duuum !

Perayaan sesungguhnya telah datang. Suara dentuman bom menggelegar dari halaman luar tempat Hari berpesta bersama seluruh bagian dari tim suksesnya. Sepersekian detik sudah memporak-porandakan seluruh isi rumah. Semua tamu berteriak seketika tragedi menghancurkan pesta malam itu.

Ternyata bom itu berasal dari pihak lawan yang sama dengannya, sama-sama mengandalkan seberapa banyak uang yang disuguhkan. Namun keberuntungan masih berpihak pada Hari. Seluruh tamu dalam acara itu berhamburan mencoba menyelamatkan diri. Namun nasib tidak berpihak pada Hari dan istrinya. Mereka telah hangus termakan api, dan juga sebentar lagi aku juga akan lenyap bersama mereka.

Biar nanti aku berpesta merayakan hari bahagia ini bersama kawan-kawanku yang telah menjadi abu. Perayaan atas kepergiannya. Kepergian seorang konglomerat yang tak pernah mensyukuri hartanya.
Teringat kata sesepuhku dulu, “Bukankah segala kewaspadaan akan jadi kenyataan?”

“Hahaha”, kami mengakhiri pesta ini dengan serentak gelak tawa.




[1] Mlarat (jawa) : orang tidak punya harta kekayaan

(Dimuat dalam Antologi Cerpen "Di Surga Tak Ada Tong Sampah" LPM Arena)

You May Also Like

0 Comments