Aku, Si Tua

by - Maret 05, 2019

Pict Pinterest

“Ctek… ctek… ctek…
Klek”
"Huh,  ingin ku banting saja kau”
Begitu ironisnya, satu-satunya warisan eyang yang sampai sekarang masih setia membawa namaku. Ku sentuh perlahan kusam parasnya yang sedari tadi aku mencacinya.
Bagaimana dengan ketertinggalanku pada era saat ini?
Apa aku harus menghianati pesan Eyang yang dititipkan kepada Ibuku?
              ___

     Aku selalu dihina, dicacinya. Salah apa aku? Ku pikir aku tidak kalah hebatnya dengan dia. Dia yang berjaya pada zaman sekarang. Pemuda-pemudi yang saat ini selalu mengunggulkannya.



“Banting saja aku, aku terlalu lemah untuk melawanmu, pemuda tampan,” Ucapku padanya, meski aku terlahir ditakdirkan terkulai bisu seperti ini. Tapi perasaan itu ada, aku punya rasa, dan aku berhak mengungkapkan rasa apa yang aku alami saat ini.



“Emak, sampai kapan aku berkutik dengan dia?” Tukasnya sembari mengangkat telunjuk kearahku. Biar aku tetap diam, begini aku juga punya wujud. Aku bisa melihatmu, melihat tekuk wajahmu. Wajah yang sudah sangat bosan denganku.

“Warisan Eyang tetap kamu pakai, rawat dia, percayalah” Jawab majikanku, yang selalu membelaku di depannya. Lirihku dalam hati “Terimakasih Nyonya,” Sayangnya bibirku bungkam,aku tak bisa bersuara.

Sebelum Izrail melepas ruh majikan tuaku, beliau berpesan untuk anak tunggalnya, bahkan beliau tahu bahwa cucu yang akan lahir dari rahim anaknya itu, akan menjadi pewaris gen beliau.

        “Pesan kakek, satu yang tidak boleh dikeluarkan dari rumah ini, mesin ketik ini, yang nanti akan melahirkan anak yang bisa membuatmu bangga, asal kamu suruh anakmu nanti untuk selalu memakai mesin ini.”Seperti itu yang aku dengar, saat majikan tuaku terkulai lemah tak berdaya di ranjang samping tempatku diberdirikan, saat itu.
___

“Klek” aku mengeluarkan suara itu “lagi”. Padahal aku tak menginginkan suara itu keluar, terlalu bosan dengan cacian yang dilontarkannya.

Kini aku sedang terhanyut dengan jamahan tangannya, satu karya terbaik dari hasil olah idenya. Aku tahu, karya pemuda ini tak kalah hebatnya dengan penulis muda di tengah kota-kota besar di luar sana.

“Alhamdulillah, hanya satu kali patah.” Syukurnya. Karena mungkin kali ini hanya dipakai 3 jam, tidak terlalu lama, karena itu aku tidak terlalu lelah dimainkan. Satu karya yang baru saja ia selesaikan, aku yakin akan berbuah manis. Lagi-lagi aku merasakan sentuhan lembut dari kain yang digoyangkan majikanku, mengelus tubuhku yang renta,lalu menyelimutiku.

“Mak, aku izin ke kantor pos.”

“Iya, hati-hati Nak” Ia kecup punggung tangan ibunya sekalian menerima uang untuk membayar perangko.

Semburat mentari memercik hingga menusuk sela ruas-ruas tulang yang menyangga tombol di tubuhku. Aku tak bisa berjalan untuk meneduhkan tubuh reyotku dari panas matahari.

“Tunggal Mahendra… pos… pos… “ Aku terbangun saat teriakan tukang pos melesat masuk menusuk telingaku. Begitulah di desa ini, semua dilakukan dengan teriakan-teriakan. Namun anehnya tidak ada yang merasa terganggu. Kulihat Ia membuka pintu kamarnya, tak bisa ku berjalan mengikuti pemuda itu, hanya saja aku mengintip dari jendela kamar. Tetap aku berdiam diri, di kamar tunggal.

“Yey, lihat ini Mak” Hanya itu yang aku dengar, aku tetap terdiam di kamarnya. Namun aku mendengar pembicaraan mereka. Aku bisa menyimpulkan pembicaraan yang terdengar seperti kabar gembira bagi mereka. Baru saja Tunggal menerima surat dari redaksi salah satu majalah. Ia berhasil memenangkan lomba tulis cerpen dan sekarang dimuat di majalah tersebut. “Wuuuuih, lumayan juga honornya”. Aku turut merasakan, apa yang dirasakan majikan mudaku. Bahagia.

Belum lama aku turut merasakan kebahagiaan itu. Tiba-tiba…

“Dimana aku?” Tak tahu dimana aku, hitam yang ada di depanku sekarang. Sinar matahari pun tidak mampu membuatku untuk menerawang keadaan luar. Bagaimana aku bisa keluar dari kegelapan ini? 
Tolong aku majikan…
____

Sepertinya lama sudah aku berada di dalam ruangan sepi, pengap nan berdebu. Aku tetap bertahan, meski cairan yang ada dalam tubuhku semakin dingin membeku.

“Maafkan aku Eyang”, aku mendengar nada sendu mengucapkan kalimat itu. Aku tahu betul itu suara siapa. Ya, itu suara tunggal. Ingin rasanya aku melihat pemuda tampan itu, dan ingin ku bermain dengan jemarinya. Jemari yang sangat pandai memainkan huruf di tubuhku. Aku ingin mengantarkannya sampai ia benar-benar akan dikenal oleh dunia.

“Hah!“ Akhirnya aku terlepas dari sesak yang berbulan-bulan aku derita, tak tahu lagi kini aku dibawa kemana,kurasakan tangannya mengangkat tubuhku,hati-hati. Aku tersentak kaget, saat ini aku disandingkan dengan dia yang berparas mewah, seperti yang selama ini aku tahu, itu dia yang diimpikan Tunggal. Sekarang dia tepat di sebelahku. Sungguh, aku malu disandingkan dengan dia yang segagah itu.

Saat ini, jemarinya mulai merabaku, aku merasakan ada yang berbeda dari sentuhan sebelumnya. Sedang aku bisa merasakan jejeran huruf yang dimainkannya saat ini, berbunyi :

“Maafkan aku Eyang, aku tak tahu akan apa yang terjadi jika aku tidak memenuhi amanatmu. Saat ini aku berada di titik kegagalan. Mungkin ini akibat aku tidak mematuhimu…”

Begitu alinea pertama dilanjutkan baris demi baris membentuk indah rangkaian kata. Rupanya, selama ini aku terpuruk di gudang belakang, tergantikan oleh barang mewah itu. Namun barang mewah itu tak membawanya dikenal dunia. Keterpurukanku ternyata membuatnya berbalik terpuruk. Saat ini aku dikembalikan di kamar ini, itupun karena aku dipanggil redaksi-redaksi Koran. Kata mereka, tulisan Tunggal berbeda semenjak ia menjuarai lomba itu.
___

"Klek" Kenapa aku mengeluarkan suara itu lagi? Disaat aku berdiri, ditengah banyak orang melihatku. Disaat aku dikenalkan Tunggal kepada dunia. Sangat memalukan, bahkan memilukan.  Aku semakin lemah, sungguh aku tak ada daya untuk kali ini.

“Maafkan aku Tunggal, aku tidak sepenuhnya bisa mengantarmu sesuai permintaan eyang. Aku masih merasa banyak hutang budi pada majikan tuaku. Tapi aku benar-benar sudah  tak mampu lagi untuk bangkit deminya. Umurku sudah semakin habis dimakan waktu. Cairan dalam tubuhku sudah semakin beku, ruas-ruas tulang penyanggaku pun sedah renta.

Maaf, sejak itu aku tak dapat menemani dia lagi, karena aku sudah ada di tempat indah. Tempat yang dikhususkan majikanku untuk menjadi tempat singgah terakhirku. Terima kasih.

Semoga tanpaku Tunggal tetap menjadi penyair yang sanggup mengubah dunia. Saat ini, aku sudah nyaman dengan tempat peristirahatanku sekarang.

Mengertilah aku Eyang. 


Cucumu tetap sanggup berdiri tanpaku, si tua yang sudah saatnya memang tak berhak lagi hidup di singgasana indah, seperti dulu lagi.

(Dimuat di Majalah Bangkit DIY tahun 2015)

You May Also Like

0 Comments