Teater Tiga Warna

by - Maret 05, 2019

Pict Pinterest
28… 27... 26…

Angka itu tetap berjalan, tak pedulikan siapapun yang memperhatikan. Bukan mencari perhatian tapi memang ditakdirkan berdiri dipinggir sana. Siang, malam, panas, badai mana pernah dia hiraukan.

Baginya,“Ini aku. Aku berdiri disini untuk dan demi mereka”
Begitulah mungkin isi hati yang tak sanggup diungkapkan. Begitu mulia dan tanpa lelah ia jalani hari-harinya. Dia terus berjalan.
___

10...9...8...

“Ayo, tujuh detik lagi kita beraksi” Teriakku sambil ku persiapkan untuk aksiku kali ini, tepat pukul 13.00 WIB . Matahari mungkin tertawa melihat kami. Lusuh, kucel.
Sepersekian menit aku berdiri di depan mereka, para pemilik Honda, Yamaha, entah sekawanan orang dengan kesibukan berbeda. Tak peduli siapa mereka. Namun aku percaya, mereka adalah sebagian dari secuil orang yang masih peduli pada kami. Entah berapapun aku terima.


Terimakasih” Tak ada kata lain yang aku ucapkan setiap harinya. Sedikit kuselipkan senyum. Begitu pun jika tanpa mereka mungkin aku bukan siapa siapa.


Semakin berat juga waktu terus berjalan, terasa begitu pengap dunia siang ini. Bergelut dengan asap-asap hitam. Kepulan-kepulan yang membuatku semakin sesak, juga karena beratnya topeng yang menutupi wajahku. Semakin membuat ku pening saja.
___

100... 99… 98...
Kulihat angka hijau itu masih lama untuk mengubah warnanya.
Ayolah, kalian jangan malas seperti ini, kalau kalian tidak semangat nabuh musiknya, aku juga ikut gak semangat.” protesku pada mereka, para pemain musik. Sekawanan seperjuanganku yang mereka adalah sepertiga dari bagian hidupku.

Bagaimana aku bisa semangat ? ini hari Imlek, pantaslah. Kan pada libur”, keluh Hendra.

Iya, aku tahu”, hampir ku ikut berputus asa. Namun tetap kugebrak mereka, juga 2 kawanku yang juga menjadi pemeran sepertiku. Seperti inilah, demi kuliah kami selesai, jalanan adalah tempat kami beradu dengan peluh-peluh harapan tak pasti.

Separuh hidupku bahkan ada di tangan angka merah, menghirup gas karbon dioksida yang berkeliaran di depanku, sudah tiga tahun aku bermetamorfosa di perempatan jalan ki hajar dewantara ini.
___

74…73…72…

Masih ada sisa sekitar satu menit lebih untuk penampilan terakhir sore ini. Kupikir sudahlah untuk hari ini, sekian saja. Tak ada hasil sebanyak hari biasanya. Jalanan sepi mungkin ramai hari ini tepat di 0 Km taman kota dekat alun alun sana.

Selamat sore, Nak. Kalian sore seperti ini ternyata masih disini?”, suara itu meluncur dari jendela Luxio yang terparkir di pinggiran trotoar tempat kami berkemas.

Siapa dia?” Kami saling berbisik heran.

Saat senja mulai menghilang, berganti dengan gemerlap bintang. Kini kami sudah berada di atas panggung 15 X 5 meter. Ya, diatas panggung “Art Festival 2015” wajah kusut kami sudah tak lagi terlihat, empat puluh lima menit lalu kami dibawa ke ruang make up, dihadapan dan disaksikan berjuta mata yang memberikan kesan sesimpul senyum kagum. Ini bukan mimpi.



Terimakasih Tuhan” Bisikku dalam batin.

Kebahagiaan itu ada. Apresiasi yang ku dapatkan malam ini, trophy awardThe Best Show Tonight” kini sudah ada di genggamanku.
___
Kembali esok aku beradu dengan kepulan-kepulan asap itu lagi. Penghargaan malam itu yang membuatku tetap semangat. Tiga warna yang menjadi saksi peraduanku kepada dunia.

03….02…01...

Semua mobil motor berhenti. Drama pun dimulai, suara musik kini lebih menyeruak gelegar. Nyaring. Terimakasih” hanya satu kata itu yang bisa kuucapkan pada setiap orang yang rela menyisihkan sedikit hartanya untuk kami. 

(Dimuat di Rubrik Remaja Harian Kedaulatan Rakyat tahun 2015)

You May Also Like

0 Comments