Cerita Mbah Ali Maksum Krapyak dan Kemajuan Perempuan

by - Mei 28, 2019


Dalam ceritanya, perbincangan Mbah Ali Maksum dengan putrinya yang bernama Nafisah bertanya, “Mengapa saya diberi nama Nafisah?”, Mbah Ali menjawab, “Aku ingin menjadikanmu ulama perempuan”. Ternyata terminologi ulama perempuan telah sejak lama digunakan oleh Mbah Ali Maksum jauh sebelum adanya kongres ulama perempuan Indonesia, jauh sebelum orang memperdebatkan perihal ulama perempuan.  Mbah Ali Maksum konsisten dalam mendorong perempuan untuk menjadi ulama, dimulai dari keluarganya. Seperti, istri dari Mbah Ali Maksum, yaitu Mbah Hasyimah aktif memberikan pengajian kepada masyarakat, juga perlakuan Mbah Ali  dalam mendidik putra putrinya tidak pernah membedakan pendidikan antar keduanya.

Ning Hindun Anisah menceritakan pengalaman beliau sebagai seorang perempuan yang sejak kecil dibesarkan di lingkungan pesantren. Bahwa beliau pernah mondok di suatu pesantren yang mana pengkajian kitab antar santri putra dan santri putri dibedakan tingkat kesulitannya, dengan dikarenakan asumsi santri putri tidak sampai pemikirannya terhadap kitab yang dikaji oleh santri putra. Lalu bagaimana dengan Siti Aisyah, Ummu Salamah, dan Sayyidah Nafisah sebagai gurunya Imam Syafi’i?

Konsistensi lain yang ditunjukkan oleh Mbah Ali Maksum, yaitu sering diminta untuk memberi mauidhoh di acara walimah, dengan memberikan perspektif pandangan feminisme terhadap pengantin, juga lembaga-lembaga pendidikan yang dirintis oleh beliau tidak dibedakan kedudukannya antara santri putra dan santri putri. Mbah Ali terinspirasi dari zaman Nabi, bagaimana Nabi mengakui dengan memberikan ruang kepada para sahabat perempuan untuk menyampaikan hadits saat itu kepada sahabat laki-laki. Dimana pada masa sahabat telah tercatat 1200 perempuan perawi hadits. Bahkan sampai saat ini tidak ditemukan hadits maudhu’ atau hadits palsu yang berasal dari rawi perempuan.

Sejarah tentang kemajuan perempuan sebagai ulama atau pemimpin tidak pernah dimunculkan. Dalam sejarah indonesia sekitar abad 17 sudah banyak pemimpin perempuan. Ratu siluhun menulis tentang hukum, dalam sudut pandang hukum islam dan hukum adat yang ditulis dengan perspektif kesetaraan gender, yang mana hukum tersebut digunakan pada kerajaannya pada masa itu.

Ibu Nyai Choiriyah, putri dari Kiai Hasyim Asy’ari pernah mendirikan sekolah perempuan di Makkah, dengan kondisi disana yang sangat patriarki. Anggota syuriah NU tahun 1950an, dan aktif dalam bahtsul matsail. Namun sampai saat ini belum terlihat kembali perempuan sebagai anggota syuriah NU. Sejarah peran perempuan yang seperti itu seharusnya diketahui oleh pesantren-pesantren. Karena ulama-ulama perempuan di Indonesia adalah lulusan pesantren. Sangat diharapkan pesantren-pesantren turut mengurus santri putri untuk dijadikan kader-kader ulama perempuan.

(Disarikan dari pemaparan Ning Hindun Annisah dalam spesial panel Muktamar Pemikiran Santri Nasional di Pondok Pesantren Krapyak dengan tema “Pesantren, Women Ulama, and Social Transformation: Challenges and prospects”- tulisan dimuat di krapyak.org)



You May Also Like

0 Comments