(KKN) Cerita Pekan Keempat: Menatap Dunia Kecil

by - Juli 28, 2019

Bukan mau ngomongin Grup Band Dunia Kecil tahun 90an. Bukan juga mau membahas tentang persepsi dunia atau bumi ini besar atau kecil. Melainkan yang hendak saya ceritakan di pekan keempat ini adalah dunia kecil, dunianya kanak-kanak.

Ketika hendak menulis dengan judul ini, tetiba teringat Novel Dunia Kecil karya Yoyon Indra Joni, yang pernah saya baca sekitar tujuh tahun lalu. Cerita yang disuguhkan dalam novel bertema dunia persahabatan dan mimpi-mimpi si kecil ini, berhasil menyatuk dengan kisah yang ada di hadapan saya selama hampir satu bulan di Dusun Jati, juga kerinduan saya pada masa kanak-kanak lalu.

Kenakalan natural khas anak-anak desa yang cukup jauh dari hingar bingar perkotaan. Meskipun tidak bisa dipungkiri juga kalau di dusun ini dunia anak-anaknnya sudah cukup terbawa arus modernisasi, juga sangat familiar dengan teknologi sejak kecil. Kali pertama saya menginjak kaki di sini, saya kira bisa menemukan permainan-permainan yang akan mengobati rindu masa kecil saya, seperti: gobak sodor, layangan, bekel, engkle, petak umpet, lompat tali, dakon, juga permainan anak tradisional lainnya. Namun di sini masih bisa saya temui kesederhanaan berpikir anak-anak desa, kepolosan, juga tingkah-tingkah lucu mereka meskipun kadang juga menyebalkan.

"Rasa-rasanya ingin mengulang masa kecil. Tertawa lepas tiada beban, tiada kegalauan hidup, tiada drama, tragedi, sandiwara. Sejenak menatap mereka lamat, kemudian tenggelam bersama dunianya. Indah."

Cukup banyak interaksi kami dengan anak-anak dusun. Pagi dari jam 8 sampai 12 siang, kami meluangkan waktu ikut menemani mereka belajar di PAUD dan Taman Kanak-kanak, seminggu sekali juga kami mengadakan bimbel tambahan untuk anak kelas enam SD, setiap sore kami menemani mereka mengaji di TPA, setelah itu anak-anak SD belajar di posko kami atau bahkan setiap waktu pasti ada yang main ke posko untuk sekadar menyambangi dan mengajak kami bermain.

Demikian seringnya interaksi dengan mereka, membuat saya semakin merindu. Celotehnya, nakal khas anak kecilnya, cerita mimpi-mimpinya, kepolosannya. Lucu. Saya yang sebenarnya kurang suka dengan anak kecil, karena setiap hari selama KKN ini memaksakan diri harus membersamai mereka, namun lama-lama jadi terbiasa juga. Meskipun kadang masih sering jengkel dan nggak sabar sendiri ngadepin mereka.

Seperti yang sering ku tanyakan,

“Cita-citanya mau jadi apa Dek?”

“Dokter Mbak”

“Tentara, guru, polisi”, saut yang lain menimpali dengan jawaban-jawaban klasik khas anak kecil. Celotehan-celotehan ringan selalu mewarnai hari-hari saya selama di sini.


Di samping kepolosan mereka tersebut, ada yang kadang membuat saya bebal dengan sebagian tingkah anak-anak sini. Di umur tiga tahun saja sudah ada pertanyaan dan pernyataan begini. “Mbak KKN, bojomu sopo?”,”Mbak, Dimas bojoku lho”, Demikian terlontar dari mulut anak umur tiga tahun. Lah kok bisanya anak umur segitu mbahas bojo? [Bojo: suami atau istri]. Kendati demikian, saya memahami kalau kognitif anak-anak dan dewasa jelas berbeda. Mereka asal ngomong saja.


Gadget dan motor. Raibnya permainan tradisional, diduga karena dua teknologi tersebut yang telah berhasil menguasai mereka. Bagaimana dan kenapanya anak sini bisa dikuasainya, sudah pernah saya tulis di cerita pekan pertama http://www.luluerzed.com/2019/07/kkn-cerita-pekan-pertama-ada-yang-raib.html. Bahkan anak-anak SD kelas empat sudah pada lihai mengendarai motor. Demikian memang dikarenakan kurangnya pengawasan orang tua setiap harinya. Seharusnya orang tua tidak cukup mempercayakan pada sekolah, melainkan pendidikan juga harus ada campur tangan dari mereka.

Saya yakin, anak-anak ini juga tidak terlepas dari kasih sayang orang tua, meskipun tidak bisa intensif bertemu dan mendampingi sepanjang harinya. Ada yang membuat hati saya tersentuh, setiap usai belajar di sekolah, anak-anak ini selalu doa bersama untuk kedua orang tua mereka. Di situ saya melihat tatap haru di mata Ibu-ibu yang menunggui putra-putrinya di TK. Menjadi anak salih dan salihah yakni harapan setiap orang tua.

Sebagai kakak yang ikut serta menemani adik-adik di dusun ini setiap harinya, saya bisa merasakan bahwa cara mendidik anak paling benar adalah memberinya suri tauladan. Anak kecil sangat mudah mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tua atau yang lebih tua dari mereka. Sungguh, banyak sekali pelajaran hidup yang saya temukan di sini saat membersamai adik-adik bermain dan belajar.

You May Also Like

0 Comments