(KKN) Cerita Pekan Kedua: Islam Nenek Moyang, Katanya

by - Juli 14, 2019


“Anjiiiiiiiiing”

Pekan kedua tinggal di sini sudah jarang lagi terdengar kata itu dari mulut-mulut kami. Bukan mengumpat, hanya saja di sini memang banyak Anjing. Saat itu kami masih takut dan belum terbiasa melihat anjing berkeliaran di rumah-rumah warga, di jalan, dimana-mana ada Anjing. Mendengar gonggongan, sekalipun dari jauh tidak melihat wujudnya saja kami sudah waspada.

Saya dan tim mengira kalau warga di sini mayoritas non muslim. Hipotesa kami muncul hanya karena kami melihat banyak Anjing berkeliaran. Namun, setelah kami banyak ngobrol dengan masyarakat, keberadaan Anjing-anjing tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama. Bahkan seluruh warga dusun sini yang berjumlah 143 KK seratus persen muslim.

Pekan pertama lalu, saya juga pernah mendengar, “Yu, iki Anjingmu to, gek digowo muleh. Mbak-mbak KKN iki lho podo wedi”.

Anjing-anjing tersebut ternyata peliharaan warga guna mengusir monyet-monyet yang menyerang hasil kebun mereka. Para warga rela mengeluarkan rupiah untuk membeli Anjing-anjing tersebut. Namun tidak ada makanan khusus untuknya, Anjing-anjing ini hanya memakan sisa-sisa makanan milik tuannya, laiknya kucing-kucing yang tak bertuan.

Tapi tenang, di sini nggak ada Anjing masuk masjid kok. Hehe


Secuil cerita pada tulisan yang saya beri judul ‘Islam Nenek Moyang’ ini. Sore itu kami menyempatkan silaturahmi ke rumah Pak Tri, salah satu tokoh masyarakat di dusun ini. Di tengah bincang saat beliau berkata, “Di sini itu Islamnya ya begini, Islam nenek moyang lah boleh dikata”. Seketika berhenti pada kalimat itu, kemudian saya teringat sesuatu.

Surat Kartini pada Stella Zeehandelaar, pada November 1899 yang kurang lebihnya berisi,

…sebenarnya agamaku Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku jika aku tidak mengenal dan tidak bisa mengenalnya? Alquran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Alquran tetapi tidak mengerti apa yang dibaca…”

Surat yang berisikan kegundahan RA. Kartini pada masa sangat ingin mendalami agama nenek moyangnya yang turun temurun. Menyimpulkan dari bincang kami dengan Beliau, kesadaran masyarakat di sini masih rendah dalam semangat mendalami agama yang dipeluknya. Entah kegundahan seperti itu sebenarnya juga ada pada masyarakat sini atau tidak, saya belum mendapat informasi lebih. Jika menurut beberapa tokoh masyarakat di sini, dan saya melihat langsung dari semangat mengkaji agama, sepertinya belum greget.


Masjid Utama Dusun Jati

“Aku yo iso maca Alquran, Mbak. Tapi nek cara jawane wong nabuh gamelan kuwi yo nutuk iso muni, ning ora ngerti padan gendinge sing bener piye. Mung sing penting iso muni.”, Begitu kata merendahnya Mbah Karjono, takmir Masjid Nur jannah, masjid utama Dusun Jati. (Aku bisa baca Alquran, Mbak. Tapi ibaratnya seperti orang memainkan gamelan, ya bisa mukulnya, tapi nggak tau cara mukul yang benar itu bagaimana).

“…Kepercayaan pada Tuhan itulah yang terutama baginya, peribadatan hanya soal tradisi…” Seperti dalam surat Kartini yang diterbitkan Van Deventer dalam De Gids Tahun 1991 tersebut. Mungkin tersebut kalimat yang tepat menggambarkan kondisi di sini. Alih-alih persoalan agama yang detail, tentang ibadah-ibadah mahdlah saja cukup dengan pengetahuan seadanya. Apalagi kok sampai ada debat agama kayak yang lagi ramai-ramai di luar sana.

“Mbiyen nek wong ora salat, berarti PKI”. Alkisah, kalimat itu dulu sering diucapkan warga sini ketika melihat warga tidak melaksanakan salat. Sekitar tahun 80an di dusun Jati ini didirikan masjid. Itu pun karena pada saat itu diadakan lomba padukuhan yang diadakan di desa Giricahyo, salah satu aspek penilaiannya setiap dusun harus ada masjid. Sejak itu mulai ada salat berjamaah di dusun ini.


( Sekadar Potret)
Area Pemakaman di Kawasan Desa Giricahyo

Keluar dari pembahasan Islam nenek moyang di atas. Rasa-rasanya kurang pantas jika mengukur tingkat atau derajat kemusliman seseorang. Saya salut para orang tua di sini semangat mengantarkan putra putrinya belajar Alquran bersama kami, Tim 173. Karena anggapan para orang tua, “Biar kami saja yang tidak bisa pendidikan agama, tetapi anak cucu kami harus bisa. Titip putra-putri kami ya, Mbak Mas”. Tersebut menjadi tanggung jawab dan tantangan bagi kami selama dua bulan di sini. Karena di dusun ini sebelumnya tidak ada TPA (Taman Pendidikan Alquran) dikarenakan tidak adanya tenaga pengajar, sehingga program kerja kami bukan dalam konteks “Mengembangkan” melainkan “Memulai”.

Terima kasih sudah menyimak cerita pekan keduaku. Doakan semoga program kerja TIM 173 lancar sampai akhir ya.

Oh iya destinasi pekan kedua ini,  kemarin Sabtu pagi  ke Watu Gupit Paralayang. Padahal kami liburannya cuma pas weekend loh, kok kalian pada reply story intagramku,

“KKN apa liburan?”, “Kok jalan terus?”

“Ya, dua-duanya sih dinikmati saja. Hehe”


Sampai jumpa di cuitan pekan ketiga.


You May Also Like

0 Comments