(KKN) Cerita Pekan ketiga: Ngomongin Cabai dan Beras

by - Juli 21, 2019


Senin (15/07) lalu hari pertama sekolah. Nampak dari depan posko kami yang cukup strategis dekat bangunan sekolah PAUD, TK, SD. Tak terpungkiri, kebahagiaan para orang tua, khususnya para Ibu yang mengantarkan anak-anak sekolah beriringan dengan nelangsa hatinya. Bukan karena lidah tetangga yang membuatnya panas, melainkan harga cabai kini membuat dompet Ibu-ibu kian memanas.

Rabu pagi jadwal saya ke pasar. Pagi itu bersamaan dengan awan mendung hingga kurasakan tetesan gerimis. Pedagang cabai adalah pedagang pertama yang saya tuju.

“Buk, tumbas lombok seperempat rawit, seperempat merah”

“Niki Mbak, jadi 42 ribu”

Setelah menunggu beberapa antrean, sontak saya kaget mendengarkan Ibu pedagang menyebutkan harga sembari menyodorkan cabai yang hanya segitu. Sedangkan saya hanya membawa uang 50 ribu dan masih untuk membeli bumbu dan sayuran lain. 

“Ngapunten Buk, jadinya beli seperempat aja dicampur”

“Oh nggih Mbak mboten nopo. Harga cabai memang lagi mahal mbak. Niki seperempat campur dadose 20 ribu”, Ibu pedagang tersebut sepertinya memahami gerak-gerikku yang hanya membawa uang tidak seberapa.

Harga cabai yang mulanya satu kilogram hanya 13-15 ribu, sekarang bisa melejit kisaran 65-80 ribu tergantung lokasi daerah yang mendapat pasokan. Tidak hanya konsumen saja yang mengeluhkan harga cabai, pagi itu terdengar ramai pedagang sayur dan bumbu-bumbu dapur juga sedang mengeluhkan anomali ini.

“Aku dadi memeng le meh dodolan lombok”, kata salah satu pedagang.

Ini memang bukan sebuah fenomena yang mengejutkan bagi para Ibu rumah tangga. Biar pun ini memang perputaran naik turun harga setiap periodenya, namun juga cukup meresahkan dan menjadi topik pembicaraan Ibu-ibu di mana saja. Pada saat arisan RT, misalnya. Saya mendapat curhatan dari Ibu-ibu di sana.

Dari pada ghibahin orang, mending ghibahin cabai ya kan? hehe

Rupanya, harga cabai ini diperkirakan karena kemarau panjang sehingga pasokan berkurang. Biasanya warga Dusun Jati ini pada musim penghujan bisa menanam cabai di pekarangan rumahnya sendiri dengan bantuan kotoran hewan ternaknya, sapi.

Pokoknya akhir-akhir ini tiap mampir warung pasti dicurhatin perkara cabai mahal.

Selain curahan hati Ibu-ibu perkara cabai, kami malam itu juga mendapat curahan perkara beras bantuan pemerintah.

Arisan Beras Dusun Jati RT 03

Ada yang menggetarkan hati saya pada malam itu. Sebagian warga belum juga beranjak pulang setelah arisan beras satu kiloan selesai. Ibu-ibu terlihat masih sibuk membagi sekarung beras ke beberapa plastik.

“Beras apa lagi ini Buk?”

Rupanya itu beras PKH bantuan dari pemerintah. Karena rasa kekeluargaan antar warga, supaya adil 1 KK yang mendapat bantuan beras sebanyak 10 kg tersebut, menyisakan 1 kg berasnya untuk dibawa ke tempat Ibu RT, lalu dikumpulkan dengan lainnya, kemudian dibagikan secara merata ke seluruh warga yang tidak mendapatkan bantuan tersebut.

PKH (Program Keluarga Harapan) yang diadakan pemerintah menjadi topik pembicaraan kami bersama Ibu-ibu Dusun Jati setelah Arisan Beras Malam Minggu di RT 03. Pasalnya, beras yang dibagikan ke warga setiap satu bulan sekali ini tidak dibagikan secara merata oleh pemerintah. Banyak warga yang sudah tercukupi kebutuhan pokoknya masih mendapatkan bantuan ini, sedangkan warga yang masih kekurangan malah ada yang tidak mendapat.

“Itu pemerintah survei ke dusun-dusun sini atau bagaimana Buk?”, tanya kami.

“Wah yo gak mbak, dari dusun nyerahin data, terus sana yang ngolah. Lek jare wong kene ngolahe pemerintah iku kurang mateng Mbak. Lha wong yang rumahnya sudah tembok bagus saja ada yang dapat bantuan kok”

Bantuan sosial PKH ini merupakan program pemerintah guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat agar lebih mandiri dan sejahtera. Tidak hanya memberikan bantuan beras sebanyak 10 kg per bulannya setiap tanggal 25, melainkan juga memberikan bantuan uang tunai tiga bulan sekali kepada warga. Pembagian yang tidak merata ini diresahkan oleh banyak masyarakat, tak terkecuali warga Dusun Jati.

Melihat pembagian beras yang diinisiasi sendiri oleh warga tersebut, benar-benar di sini saya merasakan rasa kekeluargaan dan solidaritas yang sangat tinggi. Coba di luar sana, masih banyak manusia yang memelihara egonya. Karena ada KKN juga saya jadi tahu gimana rasanya jadi Ibu-ibu yang meresahkan naik turunnya harga cabai. Heuheu

Pantai Ngrawe

Sudah dulu ya, cuitan pekan ketiga ini. Terima kasih udah mau nyimak cerita KKN tim kami.
Program kerja masih aman kok.

Oh iya, pekan ini destinasi tim 173 ke Pantai Ngrawe, Gunungkidul, ditempuh kurang lebih satu jam dari posko kami. Pantai dengan pasir putih, ombaknya yang sedang pasang, sejuk angin bersama nyiur kelapanya cukup membuat kami nyaman sejenak melepas penat di sana.





You May Also Like

1 Comments