Cerita Magang di Mojok

by - Desember 17, 2019


Kalau kepo silakan dibaca. 
Tapi kalau baca harus sampai akhir ya. Hehe.
By the way kutulis karena ini pengalamanku sekali seumur hidup.

Pra Magang

Sebelumnya belum terpikirkan sama sekali buat magang di mana. Setelah cari-cari info sana-sini mau magang dimana, akhirnya aku memutuskan buat pilih Mojok.

Beberapa informasi terkait  bagaimana dan apa saja persiapan untuk magang di sana, aku dapet dari highlight stories-nya Mojok, juga ada dari website, Aku juga DM instagram Mojok, kirim email Mojok, DM Mas Agus Mulyadi. Da pokoknya segala upaya aku lakuin buat dapet informasi magang di sana.

KKN usai, magang profesi pun dimulai.

Step by step prosedur magang kulakuin. Tapi nggak mau detail-detail juga nulisnya per tanggal, nanti jadinya kek laporan magang resmi yang dikumpulin ke dosbim magang.

Setelah akhirnya dapat informasi, yang mana langkah pertama aku harus mengirimkan portofolio karya, CV, juga surat pengajuan magang ke email mojok.

Nah, drama pas ketemu dosen buat tanda tangan surat pengajuan magang nih.

“Yakin diterima di Mojok? Dari sini belum pernah ada kerjasama dengan sana lho”, kata dosen.
“Lah memangnya kenapa, Pak? Boleh, kan?
“Ya boleh. Tapi yakin?”
“Insyaallah, Pak.”

Setelah mendengar perkataan dosen, yang seolah meragukan bakal diterima atau tidak, aku nggak down-down amat sih. Keterima ya Alhamdulillah, kalau nggak ya cari tempat magang lain.

Step selanjutnya nih, setelah kirim email artikel, cv, dan surat pengajuan magang itu, berhari-hari nungguin balasan email. Sampai akhirnya dapat kabar dari sekred buat datang ke kantor Mojok.

Oh iya, kata gantinya jadi kami aja ya. Karena aku berjuangnya nggak sendiri, jadi magang ini aku bareng salah satu temen kelas, si Annatiqo.

Pertama kali kami datang ke kantor Mojok akhir September lalu, langsung dong di sana ditanya ini itu (alias wawancara terkait wawasan permojokan) sama Mas Dafi, terus lanjut tes tulis, dengan buat artikel dikasih waktu kurang lebih lima jam.

Selesai itu, kami nunggu beberapa hari buat dapat kepastian diterima atau tidaknya. Karena Mojok hanya menerima dua anak magang, dan pada saat itu kami nggak tahu, apa di sana sudah ada anak magang atau belum. Posisi sudah akhir September, wah ya kalau nggak diterima mungkin kami terpaksa nanti ngikut sama fakultas mau ditempatkan magang dimana.

Dan akhirnya, kami dapet kabar diterima magang di sana.

Pas Magang

Pake kata ganti ‘aku’ lagi ya. Di bagian ini soalnya lebih ke cerita personalku sih, mungkin bisa jadi beda atau lain cerita dengan dia. (Dasar aku aja yang nggak konsisten)

Setiap Senin-Jumat aku harus datang ke kantor Mojok yang berada di sekitar KM. 12 Jl. Kaliurang. Lumayan sih. Lumayan banget. Kalau setiap harinya dari Bantul ke Sleman, PP tiap hari antar kota cuy. Tapi ya nggak apa-apa sih. Toh juga aku seneng bisa dapet kesempatan buat tau dapur redaksi di Mojok.co.

Setiap harinya aku harus buat 1 artikel buat dikirim ke redaksi Terminal Mojok. Itu pun belum tentu setiap harinya akan naik ter-upload di Terminal. Ternyata susah cuy. Sama sekali jauh dari kesok-sokanku yang tiap baca web Mojok.co atau Terminal Mojok dengan sedikit mbatin, “Nulis begini mah kayaknya gampang deh”. Ternyata nggak semudah itu, ferguso~

Di hari-hari awal aku magang, tulisanku dibaca sama Mas Dafi. Begini kurang lebih komentar dan masukannya.

  1. Kalau nulis itu harus yang dekat dengan kita, dan yang benar-benar kita pahami. Supaya lebih mudah menuliskannya.
  2. Kamu ini pasti takut ya nulisnya? Kalau nulis jangan takut
  3. Jangan kebanyakan data tinjauan pustaka. Perbanyak data dari observasi kamu sendiri. Tulisanmu ini malah kayak tulisan Tirto.id, coba kamu baca lebih banyak lagi tulisan Mojok
Aku bingung dong harus gimana. Pernah sampe nangis gara-gara bingung ini cara nulis yang bener kayak gimana. Berlatih lagi, baca lagi, tulis lagi, koreksi lagi, begitu terus sampai lama-lama mulai ngalir juga. Meskipun kadang kebingungan setiap harinya harus scroll twitter, scroll news, ngalamun, merenung, mikir buat cari tema hari ini mau nulis apa.

Kenapa Terminal Mojok? Kok nggak Mojok.co?

Dulu sebelum ada Terminal Mojok, anak magang memang langsung diarahkan ke Mojok.co, karena Mojok.co cukup ketat seleksi tulisan yang masuk, sehingga anak magang kesulitan buat tulisannya dimuat di sana. Bisa-bisa dua bulan magang hanya 2-3 artikel yang dimuat.
Karena sekarang ada Terminal Mojok -yang nggak seketat Mojok.co-, jadi anak magang diarahkan ke sana.

Boro-boro Mojok.co, Terminal Mojok aja aku selama dua bulan baru 12 artikel yang dimuat. Hehe. Sila baca artikelku di sini. Tapi, kapan-kapan coba kirim ke Mojok.co deh.

Selama dua bulan magang juga ada beberapa minggu dilakukan kerja remote. Kerjanya bisa dimana aja terserah redaktur, nggak harus dateng ke kantor dan yang penting hari itu ngirim tulisan.

Pokoknya nulis dulu, nulis lagi, nulis terus.

Pasca Magang

Dua bulan cukup menguras tenaga dan pikiran sih. Capek badan karena harus bolak balik pergi pagi pulang petang, capek pikiran karena tiap hari harus putar otak buat dapet tema tulisan. Kadang malemnya aja udah mikir. Besok mau nulis apa ya? 

Tapi semua kelelahan itu nggak berarti apa-apa lah dibanding pengalaman dan pelajaran yang banyak sekali aku dapatkan saat magang di Mojok.

Kadang rindu sama kantor redaksi Mojok yang tenang dengan suara gemericik air di kolam ikan, bau asap rokok, canda Cik Prim, Mas Dafi, Mas Ega, Mas Seno, Mas Ali tanpa kalian yakin kantor krik krik. Kalau rapat redaksi hari Senin lebih ucul lagi, karena ada Mas Agus.

Mbak Au si murah senyum yang sabar banget banyak ngasih aku kritik dan saran tulisan-tulisanku. kangen semuanya cuy.

Oke. Magangku lancar dan laporan magang juga udah kelar. Alhamdulillah.
Kalau mau tanya-tanya cerita magangku yang sekiranya belum aku tulis di sini, bisa ditanyakan via Direct Message atau Email ya. Halah apasih.

Bonus Tips Cari Tempat Magang
  • Cari tempat magang sesuai bakat dan minat kalian
  • Jangan ikut-ikutan temen. Harus punya pilihan sendiri
  • Pertimbangkan dulu, kira-kira di sana kalian akan berkembang atau nggak
  • Jangan takut buat ngelamar magang di tempat yang sekiranya butuh effort lebih

Bonus Beberapa Teknik Penulisan di Mojok

Ini aku dapetin pas evaluasi sama Cik Prim (Pimred Mojok), jarang-jarang kalian dapetin materi ini lho, hehe. Bahkan pas mapel atau makul Bahasa Indonesia sekalipun. Nggak banyak sih yang aku kasih bocoran, tapi barangkali sedikit bisa buat pedoman kalian kalau ada yang mau nulis di Mojok. Cekidot~
  1. Konsistensi penggunaan kata ganti dalam satu tulisan, seperti menggunakan ‘saya’ atau ‘aku’
  2. Penulisan … sebelum atau setelahnya harus diberi spasi, jika di akhir kalimat, maka titiknya menjadi empat. (contoh: bla bla bla cinta….)
  3. Sebelum ‘Hehe’, harus ada koma (…, Hehe)
  4. Pengulangan huruf harus kelipatan tiga ( plisss, plissssss)
  5. Sering-sering buka KBBI ya cuy!
  6. Penulisan tanggal 17 September 2019, tidak perlu menuliskan kata ‘tanggal’
  7. Dalam standar media online, satu paragraf, 4-5 kalimat.
  8. Kalau di Mojok pakainya “nggak” bukan “enggak”. “nggak apa-apa” bukan “gapapa”
 Dah ah segitu dulu. Semoga bermanfaat 😀




You May Also Like

0 Comments