Menjadi Manusia yang Memanusiakan Manusia

by - Desember 18, 2019


Kama Tadiinu Tudaanu : Sebagaimana kamu memperlakukan, (begitu pula) kamu akan diperlakukan. Tersebut penggalan Hadits, menjadi salah satu yang mendasari saya mengetik tulisan ini.

Saya menulis ini di bulan Desember, juga dalam rangka mengenang sosok berperikemanusiaan, yaitu Gus Dur. Tapi di sini saya nggak akan bahas bagaimana figur sosok Gus Dur dalam memanusiakan manusia ya.
Tulisan ini berisi sedikit cuitanku perihal konsep memanusiakan manusia.

Relevan dengan salah satu konsep hidup yang saya pegang dewasa ini, yaitu ‘Memanusiakan Manusia’. Saya yang dulu boleh dibilang cenderung berkepribadian individualis, akhirnya lambat laun mulai memahami konsep tersebut yang mengharuskan menjadi orang yang ‘sosialis’. Apa sih bahasa yang pas. Paham kan? Paham lah, harus.

Tentu ini tidak sulapan atau cling tiba-tiba saya mampu memahami dan menyadari pentingnya konsep ini. Banyak sekali membaca dari pengalaman sendiri, juga kisah pengalaman teman.

Pernah Ayah saya berpesan, “Kuncinya itu, kalau mau dihormati ya harus bisa menghormati”. Saya kira itu juga bagian dari maksud konsep ‘Memanusiakan Manusia’, yang jika dipreteli (apa sih bahasa yang pas), akan menemukan komponen-komponen tersebut di dalamnya.

Sejak itu, saya mulai menyadari untuk selalu berkaca pada diri sendiri saat mengeluhkan sesuatu. dan selalu teringat pesan Ayah, lalu saya ganti predikatnya. Seperti: Kalau mau disayang, ya harus menyayangi. Kalau mau pendapat kita didengarkan orang lain, ya harus mau mendengarkan orang lain. Dan begitu seterusnya harus selalu melihat diri sendiri sebelum menjustifikasi perilaku orang lain terhadap kita.

“Apa saya mau jika saya diperlakukan seperti itu?”, Nah pertanyaan ini juga perlu disadari setiap manusia. Setelah kesadaran kita harus melihat diri kita sendiri sebelum menjustifikasi orang, ini juga harus beriringan dengan melihat diri kita terlebih dahulu sebelum memperlakukan orang lain.

Perlu dipahami dan disadari oleh setiap manusia (lagi), konsep ini sudah saya terapkan dalam perihal apapun. Pernah saya hampir menabrak orang, tapi nggak tau sebenarnya yang salah siapa, lawan motor juga salah karena kecerobohannya, dan ini berulangkali saya alami di jalan.

Pada saat terjadi insiden tersebut, pasti sebisa mungkin saya  meminta maaf duluan dan mempersembahkan seutas senyum terbaik dari bibir saya –yang manis—ini. Sudah kubuktikan berkali-kali, ini sangat terbukti manjur, cuy. Lawan laka saya nggak jadi marah-marah dong.

Dan saya sangat yakin, kalau percekcokan di jalanan antar pengendara, biasanya bermula dari salah satu di antara mereka tidak ada yang mau meminta maaf dan tidak mau mengalah. By the way, ini juga bisa diterapkan tidak hanya dalam kasus ini. Misalkan, dalam kehidupan sosial keseharian, atau dalam menjalin hubungan dengan seseorang. Putus da putus hubungan kalian!

Mengaplikasikan konsep ‘Memanusiakan Manusia’ berarti harus bersitegas melawan ego. Berusaha menjadi manusia yang legowo (menerima dengan ikhlas), mampu mengerti dan memahami orang lain di hadapan kita.
Konsep ini juga sejalan dengan peribahasa “Apa yang kamu tanam, maka itu yang akan kamu tuai”. Peribahasa ini seringkali diterapkan dalam proses mencari ilmu. Tapi bagi saya tidak hanya itu, konsep ini juga berhak memakai peribahasa tersebut.

Sudah termaktub juga dalam al-Quran sebagai sumber pedoman umat muslim, salah satunya terdapat dalam Surah Arrahman ayat 60 “Hal jazaa ul ihsaani illal ihsan” yang artinya “Tidak ada balasan kebaikan, kecuali dengan kebaikan pula”.

Masih banyak ayat-ayat lain yang serupa dalam al-Quran yang berisi balasan atas perbuatan manusia. Tentunya ini tidak hanya konteks menanam di dunia, menuai di akhirat. Ini juga bisa berlaku di dunia, yang seharusnya juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dan harus disadari oleh setiap manusia kalau ini menjadi bagian dari konsep hidup yang menurutku sangat urgen.

Saya pikir tidak hanya sumber pedoman Islam yang mengajarkan demikian. Saya yakin agama-agama lain dalam kitab pedomannya juga mengajarkan kebaikan-kebaikan. Baik pada perkara hubungan kepada Tuhan, maupun hubungan kepada manusia.

One of the conclusion, intinya: Nek ora gelem dikonokke, yo ojo ngonokke, Mbak Mas.
(Kalau nggak mau digituin ya jangan ngegituin)
~

#Mohon maaf kebawa ritme gaya tulisan Mojok. Wkwk



You May Also Like

0 Comments